Berhati-hatilah dalam Memilih Teman!

Selektif dalam memilih teman merupakan prinsip utama dalam Islam. Sejarah pun menunjukkan bahwa para ulama terdahulu (as salafush shalih) benar-benar memerhatikan prinsip ini. Karena sosok teman sangat berpengaruh bagi kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat.

Di dalam Shahih Al-Bukhari no. 3742 disebutkan bahwa Alqamah seorang tabi’in yang mulia berkisah: “Ketika aku masuk ke Negeri Syam, maka aku (langsung menuju masjid dan) shalat dua raka’at. Kemudian kupanjatkan sebuah do’a: ‘Ya Allah, berilah aku kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini)’. Usai berdo’a kudatangi sekelompok orang yang sedang duduk-duduk dan turut bergabung bersama mereka. Lalu datanglah seorang syaikh dan duduk disebelahku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Siapakah orang ini?’ Mereka menjawab: ‘Beliau adalah sahabat Abu Darda’.’ Maka aku katakan kepada beliau, ‘Aku telah berdo’a kepada Allah agar diberi kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik (di negeri ini). Sungguh Allah telah memudahkanku untuk bertemu denganmu.’ Sahabat Abu Darda’ berkata: ‘Dari manakah engkau’. Maka kukatakan: ‘Aku dari Negeri Kufah’.”

Selektif dalam memilih teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Memerhatikan teman merupakan kewajiban setiap insan muslim. Jika mereka itu orang-orang yang buruk, maka hendaknya dijauhi, karena (penyakit) mereka itu lebih kuat penularannya daripada kusta. Atau jika mereka itu teman-teman yang baik, yang senantiasa memerintahkan kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran dan membimbing kepada pintu-pintu kebaikan, maka hendaknya digauli.” (Al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid 1/224)

Selektif dalam memilih teman ini hendaknya dilakukan semenjak seseorang masih muda. Karena pergaulan di masa muda sangat menentukan bagi kelanjutan seseorang pada fase-fase berikutnya.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Jika engkau melihat seorang pemuda di awal pertumbuhannya bersama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka optimislah akan keadaannya (di kemudian hari). Jika engkau melihat di awal pertumbuhannya bersama ahlul bid’ah, maka pesimislah akan keadaannya (di kemudian hari).” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Al-Imam Ibnu Muflih 3/77)

Demikian halnya yang dikatakan Al-Imam Amr bin Qais Al-Mula’i, namun ada sedikit tambahan: “…karena (perjalanan) seorang pemuda sangat ditentukan oleh masa awal pertumbuhannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah 2/481-482)

Tak kalah pentingnya pula selektif dalam memilih teman saat menuntut ilmu.

Al-Imam Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani berkata: “Bila dia (seorang penuntut ilmu) membutuhkan teman, hendaknya memilih orang yang shalih, beragama, bertakwa, wara’, cerdas, banyak kebaikannya lagi sedikit keburukannya, santun dalam bergaul, dan tak suka berdebat. Bila dia lupa, teman tersebut bisa mengingatkannya. Bila dalam keadaan ingat (kebaikan), teman tersebut mendukungnya. Bila dia butuh bantuan, teman tersebut siap membantunya. Dan bila dia sedang marah, maka teman tersebut pun menyabarkannya.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hlm. 83-84)

Teman adalah potret tentang jatidiri seseorang. Bahkan ia sebagai barometer bagi agamanya.
📚Rasulullah bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
🔶↔🔶“Seseorang tergantung agama teman akrabnya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian memerhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman akrab.” (HR. Abu Dawud dalam As-Sunan 2/293, At-Tirmidzi As-Sunan 2/278, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4/171 dan Ahmad dalam Al-Musnad 2/303 dan 334 dari sahabat Abu Hurairah. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 927)
#Sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seseorang akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan sejenis dengannya.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah 2/476)
#Al-Imam Qatadah berkata: “Demi Allah, sungguh tidaklah kami melihat seseorang berteman kecuali dengan yang sejenisnya. Maka bertemanlah dengan orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah, semoga kalian senantiasa bersama mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah 2/480)
#Ketika Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri datang ke Kota Bashrah dan melihat posisi Ar-Rabi’ bin Shubaih yang tinggi di tengah umat, beliau pun menanyakan prinsip agamanya. Maka orang-orang menjawab: “Prinsip agamanya tidak lain adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri bertanya lagi: “Siapakah teman-teman dekatnya?” Mereka menjawab: “Orang-orang Qadariyyah (anti taqdir, pen.).” Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri pun berkata: “Kalau begitu dia adalah seorang qadari.” (Al-Ibanah karya Al-Imam Ibnu Baththah 2/453)    
#############

# Faidah dari Ustadzuna Ruwaifi bin Sulaimi hafizhahullah
—————————————-

View text
  • 3 months ago
  • 3

Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahullah berkata:

"Waspadalah kamu, waspadalah kamu dari dua perkara, yang keduanya mempunyai akibat-akibat buruk:
1) Menolak kebenaran karena bertentangan dengan hawa nafsumu. Sungguh kamu akan dibalas dengan keterbalikan hati, dan selalu menolak kebenaran manakala kebenaran itu menghampirimu.

2) Meremehkan suatu perkara manakala telah tiba waktunya. Sungguh kamu akan dibalas dengan lemah semangat, pesimis, dan rasa malas.

Barangsiapa selamat dari dua penyakit ini, maka berilah ucapan selamat kepadanya.”

Sumber: Kitab Thariqul Wushul ilal ‘Ilmil Ma’mul, hlm. 313.

Faidah dari Ustadzuna Ruwaifi bin Sulaimi hafizhahullah

View quote
  • 3 months ago
  • 2

BEBERAPA HADITS LEMAH YANG MASYHUR DIKALANGAN KAUM MUSLIMIN

Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askary -hafizhohullah-

Hadits:

ﺍﻃﻠﺒﻮﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﻟﻮ ﺑﺎﻟﺼّﻴﻦ

“Tuntutlah ilmu mekipun sampai ke negeri China.”

✏ Berkata Al-Baihaqi tentang hadits ini: “matan hadits ini masyhur, namun sanad-sanadnya lemah.” Berkata Al-Bazzar: “Hadits ini tidak memiliki asal.” Ibnu Hibban berkata: “Bathil tidak ada asalnya.” Berkata Al-’Uqaili: Tidak diketahui lafazh “Walau ke negeri China” kecuali dari Abu Atikah, dan seorang matruk al-hadits (ditinggalkan haditsnya), berkata Al-Albani: “Bathil.”

Lihat: Musnad Al-Bazzar: 1/175, Takhrij ahadiits Al-Ihya: 1/11, Faidhul qadir, Al-Munawi: 1/542, Adh-Dhu’afaa karya Al-Uqaili: 2/230, Silsilah Adh-Dha’ifah: 1/418.

PERINGATAN:

Ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bagi siapa yang berdusta atas nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

ﻣﻦ ﻛﺬﺏ ﻋﻠﻲّ ﻣﺘﻌﻤّﺪﺍ ﻓﻠﻴﺘﺒﻮّأ ﻣﻘﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻨّﺎﺭ

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sangaja, maka hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya dalam neraka.”¹

Dalam riwayat Bukhari, disebutkan dengan lafazh:

ﻣﻦ ﻳﻘﻞ ﻋﻠﻲّ ﻣﺎﻟﻢ ﺃﻗﻞ ﻓﻠﻴﺘﺒﻮّﺃ ﻣﻘﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻨّﺎﺭ

“Barangsiapa yang berkata atas namaku yang Aku tidak mengucapkannya, maka hendaknya dia persiapkan tempat duduknya di dalam neraka.”²

 —————

1 HR. Bukhari, bab: Itsmi man kadzaba ‘alan nabiyi shallallahu ‘alaihi wasallam, no: 110. Muslim, bab: taghliizhil kadzibi ‘alan nabiyi shallallahu ‘alaihi wasallam, no: 4, dari hadits Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu. Dan hadits ini termasuk hadits yang mutawatir.

2 HR. Bukhari, no: 109, dari Salamah radhiyallahu ‘anhuma.

Dinukil dari:

Buku ILMU Syar’i dan Keutamaannya – Pustaka Ats Tsabat Balikpapan

TIS (Thalab Ilmu Syar’i)

sumber: salafy.or.id

View text
  • 3 months ago
  • 2

‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,

“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

View quote
  • 4 months ago
  • 2
View photo
  • 4 months ago
  • 2
View photo
  • 4 months ago
  • 3

FAEDAH DARI HADIST ARBAIN NAWAWIYAH KE 25

بسم الله الرحمن الرحيم

قال تعالى (فاستبقوا الخيرات ) و قال تعالى ( و سارعوا إلى مغفرة من ربكم

Allah Taala berfirman :

( berlomba lombalah kalian dengan kebaikan ) ( Dan bersegeralah kalian menuju ampunan Robb kalian )

Nabi صلى الله عليه و سلم Bersabda :

” بادروا بالأعمال “

” bersegeralah kalian dalam beramal amalan soleh “

dari ayat dan hadist diatas maka kita dapat mengambil faedah sebagai berikut :

✏ kita diperintahkan oleh Allah taala untuk berlomba lomba dalam mengerjakan segala bentuk kebaikan dan amalan soleh.

✏ bersegera menuju ampunan Allah taala dan bertaubat dari segala dosa serta meninggalkan segala perbuatan yang dilarang oleh Allah taala merupakan ciri dan sifat seorang mukmin.

✏ tidak menunda setiap amalan yang soleh yang mampu kita kerjakan dan mempersiapkannya untuk bekal kita pada hari kiamat kelak

✏ seorang mukmin harus memiliki semangat yang tinggi dalam beramal soleh dengan keikhlasan dan hanya mengharap wajah Allah taala.

✏ kita boleh merasa iri melihat saudara kita yang antusias dalam beramal soleh agar kita juga terpacu untuk berbuat kebaikan.

Tatkala sahabat yang miskin iri melihat sahabat yang kaya mampu berinfaq dijalan Allah Mereka mengeluh kepada Nabi tentang ketinggalan mereka dalam amalan Lalu Nabi shallahu alaihi wa sallam memerintahkan mereka banyak berzikir kepada Allah Azza wa Jalla

( hadist Abu Dzar / muslim: arbain nawawiyah ke 25)

Dalam beramal soleh mereka berpacu dan berpacu tidak mau ketinggalan dalam beramal soleh….

semoga kita bisa mengikuti jejak mereka…

وفقنا الله الجميع

كتبه الفقير إلى رب العالمين

أبو همام الأثري

View text
  • 4 months ago
  • 1
x